GETIR

Makhluk di penjuru dunia tertawa,

Melemparkan mawar hitam satu demi satu,

Sambutan meriah atas memukaunya peranku,

Benda mati di sekeliling pun jadi saksi,

Menumpahkan keharuannya atas cerita yang bak anak tiri.

 

Entah apa ini namanya,

“Getir” kurasa,

Tawanya seolah aku pantas dicaci,

Tak dihargai,

Mawar hitamnya simbol atas duka cita,

Seolah aku pantas lenyap ditelan bumi,

Dan keharuan yang ada seolah pertanda,

Bahwa tak ada tempat yang pantas untuk kusinggahi.

 

Getir sekali,

Kupastikan ini yang terakhir,

Jatuh ke lubang yang sama,

Tenggelam dalam telaga penuh luka,

Segala menghina, semua tertawa,

Menghujamku dengan seruan bahwa akulah yang salah.

 

Getir sekali,

Getirnya tak dapat kutawar lagi,

Lebih getir dari ribuan pedang yang dihunuskan ke hati,

Hingga membuatku ingin pergi,

Pergi dari manusia si penancap belati,

Pergi dari mereka yang lidahnya meracuni setajam seligi.

 

Inilah getir tergetir yang kutemui,

Bak permata yang tertutup debu,

Ketulusan ini tak ada yang mau tahu,

Hanya hitungan jari yang sadari hal itu,

Selebihnya?

Yang dipercaya, yang dicinta,

Yang dikorbankan segala,

Hanya memandang tak lebih dari sekedar sampah,

Hina,

“Kubuang kau jauh-jauh!” katamu,

“Kau busuk, tak bermakna, enyah saja!” katanya,

“Kau terbusuk, terburuk dari yang paling buruk!” kata mereka.

 

Inilah getir tergetir,

Kupastikan ini yang terakhir,

Setibanya jiwaku di singgasana Rabb-ku,

Telaga air mata bercampur derita,

Akan bersaksi di hadapan Tuhan-nya,

Dzat yang tak pernah tidur,

Yang tak akan memberi remisi pada para napi,

Ketika kekeliruannya telah terbukti,

Sebab pengawasan-Nya lah yang paling sempurna,

Hingga tiada luput di dalamnya.

 

Inilah getir yang kurangkai dalam barisan kata,

Yang kujamin mereka tak mengerti juga,

Tentang apa yang tersirat di dalamnya,

Lihatlah dia,

Wanita,

Pria,

Keduanya sempat dipuja dan dipercaya,

Keduanya dibanggakan di awal cerita,

Namun kini berkoalisi untuk menghina,

Mencaci, dan menguburku tanpa hati,

Sebab di matanya akulah sampah,

Yang pantas disalahkan dan dibuang kapan saja.

 

Dialah wanita dan pria,

Getir tergetir yang pernah ada,

Yang tak ingin lagi kuingat namanya.

 

Surabaya, 24 Agustus 2013.

(Posted by Nuni رحموت )

Posted on 25 Agustus 2013, in Kumpulan Puisi, Lifes and tagged , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

dunia gradien

Just another WordPress.com weblog

Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur

Astry Craft

CrEaTive iMaGinAtioN

dimasgoblogdotcom

Just another WordPress.com site

Olives' Diary

“Menulis dapat menghilangkan rasa sesak di dada. Pindah ke Pluto mampu menghilangkan semua rasa sesak di Bumi. Terus menulis sampai pesawat menuju Pluto itu datang”

Pustaka Eidariesky

Syariah, Tarbiyah, Tutorial & Informasi

PITHECANTROPUS

Fatwa Absurdius Puitica Shalalala

StoryTeller

---Enjoy my story---

#DearBooks Project

It's from you. For Everyone.

MY OWN WORLD

A BLOG ABOUT ORDINARY GIRLS WORLD

Saffa' | Inspiration

Informasi | Beasiswa, Pendidikan, Lowongan Kerja CPNS 2016, BUMN, Bank

sarungbiru

Santri Ingin Berbagi

Termos Kuaci

I post about random, mbuh, and sakkarepku

astitirahayu's bLog (1447)

MaRii SaLing bErBaGi iLmu dSiNii

Sketch's Blog

Just another sketching site

My Humz… My share place

Tiada hari tanpa bersyukur

The WordPress.com Blog

The latest news on WordPress.com and the WordPress community.

%d blogger menyukai ini: